Cityawesome.com – Mengenal tradisi pemakaman Ma’Nene dari Tana Toraja. Kematian tentunya akan terjadi kepada apapun dan siapapun yang pernah hidup. Baik manusia, hewan, dan tumbuhan semuanya pasti akan mengalami kematian.

Mungkin kamu sudah biasa jika melihat mayat manusia yang hidup kembali dalam beberapa judul film. Namun di Sulawesi Selatan tepatnya di Tana Toraja, di sana terdapat mayat manusia sungguhan yang bisa berjalan seperti adegan dalam film.

mengenal tradisi pemakaman Ma'Nene

Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Tentulah semua itu adalah bagian dari budaya Tana Toraja yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Nah daripada penasaran, mari simak bersama artikel di bawah ini. Sekaligus mengenal tradisi pemakaman Ma’Nene yang merupakan budaya Tana Toraja yang berhubungan dengan mayat manusia.

1. Apa itu Upacara Ma’ Nene ?

Jika kamu baru mendengar istilah upacara Ma’Nene. Upacara tersebut merupakan upacara khusus mayat yang sudah ada dan terus berjalan di Tana Toraja sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Selain itu, upacara Ma’Nene sendiri bertujuan untuk mengganti pakaian mayat para leluhur mereka.

Namun, upacara Ma’Nene biasanya di lakukan secara khusus oleh masyarakat Baruppu yang berada di pedalaman Toraja Utara.

Ma'Nene di tanah toraja

Selain itu. Upacara tersebut di lakukan tiga tahun sekali tepatnya pada bulan Agustus dan harus di lakukan hanya setelah musim panen.

Hal ini di karenakan masyarakat Toraja meyakini jika upacara tersebut di lakukan sebelum musim panen. Maka akan berpengaruh pada sawah sehingga menjadi rusak yang di sebabkan oleh tikus dan juga ulat.

2. Sejarah Upacara Ma’ Nene

Ritual Ma’Nene sendiri berawal dari seorang pemburu yang bernama Pong Rumasek yang menemukan jasad manusia salam kondisi yang sangat memprihatinkan di pegunungan Balla.

Baca Juga:  Obyek Wisata Gunung Bromo, Wajib Di Kunjungi

Lalu kemudian jasad tersebut di bawa olehnya dan di berikan pakaian dengan layak untuk di makamkan di tempat yang aman.

tradisi tana toraja

Nah, sejak kejadian itu, pemburu tersebut selalu mendapatkan berkah yang berlimpah dalam hidupnya. Mulai dari pertanian miliknya yang panen lebih cepat hingga mendapat hewan perburuan dengan mudah. Sehingga tiap Pong menemukan jasad manusia, maka dia akan melakukan cara yang sama dengan yang sebelumnya pernah ia lakukan.

Hal itulah yang kemudian di amanahkan oleh Pong kepada penduduk Baruppu yang hingga kini masih tetap di lestarikan.

3. Prosesi Upacara Ma’Nene

Biasanya prosesi upacara Ma’Nene di awali dengan mengunjungi sebuah lokasi tempat di makamkannya para leluhur. Lokasi tersebut berada di pekuburan Patane kecamatan Sariale, kabupaten Toraja Utara.

Nantinya sebelum membuka dan mengangkat peti jenazah, Ne’Tomina Lumba yang merupakan sebutan untuk para tetua di sana akan membacakan doa dalam bahasa Toraja Kuno. Baru kemudian setelahnya mayat tersebut di angkat dan di bersihkan mulai dari kepala hingga ke ujung kaki dengan menggunakan kuas dan juga kain yang bersih.

Setelah mayat terlihat bersih, barulah mayat tersebut di berikan pakaian baru untuk dibaringkan di peti kembali. Selain itu, mayat – mayat tersebut juga masih dalam keadaan utuh dan tidak membusuk di karenakan sudah di awetkan sebelumnya menggunakan formalin.

mengenal tradisi pemakaman Ma'Nene

Selama proses upacara Ma’Nene, para pria akan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu hingga menari yang menjadi lambang kesedihan bagi mereka. Hal itu di lakukan untuk memberikan semangat kepada keluarga yang di tinggalkan.

Masyarakat Toraja juga percaya bahwa para leluhurnya itu sangat suci dan berasal dari langit dan bumi. Oleh karenanya jasad manusia di sana tidak di kuburkan dalam tanah karena di percaya akan merusak kesucian bumi yang akan berpengaruh pada kualitas dan kesuburan tanah.

Baca Juga:  Tegal Mas Island : Surga di ujung Sumatera

Nah, itulah beberpa penjelasan mengenai budaya Ma’Nene yang berasal dari Tana Toraja. Jika kamu penasaran dengan keadaan yang sebenarnya di sana. Kamu bisa sesekali berkunjung ke Tana Toraja untuk mempelajari budaya dari para leluhur mereka di sana yang masih terus di lestarikan.***