Museum Joang 45

Museum Joang 45 merupakan salah satu cagar peninggalan sejarah yang berharga. Gedung ini menyimpan banyak sekali rekaman sejarah yang berkaitan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Meskipun secara tampilan luar desain arsitekturnya tampak kuno, tapi secara konstruksinya masih kokoh. Jika kamu tertarik dengan tempat bersejarah ini, maka simaklah 5 fakta sejarah bangunan museum ini. 

Bangunan Hotel Peninggalan Belanda 

Menurut sejarahnya, bangunan museum ini dulunya merupakan bangunan hotel dari zaman Belanda. Bangunan yang termasuk ke dalam Cagar Budaya Kemdikbud ini berdiri sejak tahun 1938 silam. 

Pada masa itu, pemerintah Belanda menggunakan bangunan gedung ini sebagai hotel bernama Hotel Schomper 1. Bangunan hotel ini berfungsi untuk menerima dan menjamu tamu penting seperti pejabat Belanda. 

Bukan cuma pejabat Belanda saja yang boleh berkunjung ke hotel ini, para pejabat pribumi pun boleh singgah di hotel ini. Sayangnya, gedung hotel ini harus berhenti beroperasi pada tahun 1942 karena diambil alih Jepang. 

Museum Joang 45 Diambil Paksa oleh Jepang 

Museum Joang 45 diambil alih jepang

Ketika penjajahan Belanda berakhir dan beralih ke masa penjajahan Jepang, di situlah masa peralihan Museum Joang 45 terjadi. Pada momen inilah, pemerintah Jepang mengambil alih gedung ini sebagai jaminan. 

Menariknya, pemerintah Jepang berusaha mengambil alih gedung ini secara paksa dari pemerintahan Belanda. Setelah itu, pemerintah Belanda menyerahkan gedung ini pada pemerintahan Jepang dengan jabatan Gunseikanbu Sendenbu. Jabatan ini merupakan bagian dari Jawatan Propaganda Jepang. 

Penyerahan Bangunan Museum Joang 45 Pada Pemuda Indonesia

Setelah pemerintahan Jepang kalah pada tahun 1942, gedung Museum Joang 45 akhirnya diserahkan pada para pemuda Indonesia. Tempat ini kemudian berfungsi menjadi tempat pendidikan politik sekaligus asrama bagi para murid. 

Baca Juga:  Obyek Wisata Gunung Bromo, Wajib Di Kunjungi

Gedung pusat pendidikan politik ini bernama Ashrama Angkatan Baru Indonesia, atau sebutan akrabnya adalah Ashrama Menteng 31. Asrama ini dulunya merupakan tempat untuk mendidik para tokoh pemuda bangsa. 

Nama-nama besar seperti Chairil Saleh, Adam Malik, Wikana, dan D.N Aidit merupakan kader-kader terbaik dari pusat pendidikan ini. Pada akhirnya, mereka pun berkarir sebagai kader politik untuk wilayah Asia Timur Raya. 

Pusat Kegiatan Pemuda Tahun ’45

Pusat kegiatan pemuda '45

Setelah era Indonesia merdeka, ada banyak kegiatan pemuda yang bermunculan. Nah, untuk memfasilitasi kegiatan tersebut, maka gedung ini sempat beralih fungsi menjadi tempat untuk berbagai aktivitas organisasi. 

Beberapa aktivitas yang berlangsung di gedung ini adalah yang berkaitan dengan organisasi politik, militer, hingga sosial. Seluruh organisasi tersebut kemudian bergabung menjadi satu wadah bernama Komite Van Aksi atau Panitia Aksi. 

Berbagai macam aktivitas yang berkaitan dengan organisasi pemuda selalu berlangsung di gedung ini. Sayangnya, aktivitas organisasi ini cuma berlangsung dalam rentang waktu yang cukup singkat, yaitu dari tahun 1968-1972. 

Sejarah dan Lokasi Candi Gedong Songo Semarang yang Menarik

Penetapan Museum Joang 45 sebagai Bangunan Bersejarah

Karena sejarahnya yang cukup panjang, maka tak heran bila museum ini resmi menjadi salah satu bangunan bersejarah di Indonesia. Bahkan, pemerintah Indonesia telah melindungi bangunan ini dan tertulis pada surat keputusan Gubernur DKi Jakarta di tahun 1972. 

Tak tanggung-tanggung, Presiden Soeharto juga telah meresmikan gedung ini sebagai sebuah museum pada tahun 1974. Pemberian nama Joang pada museum ini juga tidak terlepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang terekam dalam gedung ini. 

Menurut sejarahnya, gedung ini memiliki peranan yang cukup besar bagi perkembangan organisasi pemuda di tanah air. Bahkan gedung ini juga sempat menjadi saksi bisu masa-masa akhir menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.  

Baca Juga:  Harga Tiket Masuk Terbaru dan Wahana Kolam Renang HS Agung

Baca Juga :

***